Selamat Datang di Mirza.Advertising, Para Sobat Boleh Lihat dan Download Pa saja di Blog ni Kunjungi Toko Mirza.Advertising Jl. Medan - Banda Aceh Simpang IV Meureudu Pidie Jaya, Kami Menerima Jasa Photo Praweding, Wedding, Resepsi Acara Lainnya dan Kami Menerima Percetakan Berupa Balliho, Spanduk,Neon Box,Sticker,Kalender,Banner,Card Name Dll, Buktikan Sndiri Insyaallah Hasil Memuaskan.
Subscribe:

100% Aceh

Rabu, 25 Januari 2012

Syariat islam di aceh masa Iskandar Muda

Sultan Iskandar Muda Menghukum Mati Anaknya Sendiri Karena Menegakkan Syariat Islam

 

Meurah Pupok adalah salah satu anak dari Sultan Iskandar Muda, makamnya terletak di  salah satu makam di dalam kawasan petak, Meurah Pupok dijatuhkan hukuman hudud oleh ayahnya sendiri yaitu Sultan Iskandar Muda atas kesalahan berzina dengan isteri salah seorang pengawal istana.  Berbagai hukuman cadangan diberikan agar Baginda meringankan hukuman ke atas Meurah Pupok memandangkan ia anak seorang Sultan, namun Iskandar Muda menolak semua cadangan itu demi memastikan Syariat Islam tertegak ke atas sesiapa sahaja.
Suatu contoh teladan yang patut diikuti oleh pemimpin kita saat ini, sikap patriot yang sangat tegas dari seorang pemimpin yang tidak kenal perbedaan dalam menegakkan sebuah aturan.
sikap yang sudah hampir tidak mungkin kita dapati lagi pada pemerintahan di masa kebangkrutan moral seperti saat ini.
Meurah Pupok adalah anak dari isterinya yang bergelar Putri Gayo yaitu yang berasal dari suku Gayo salah satu suku di Aceh Tengah.
isteri Iskandar Muda yang lain adalah Putri Sani yang berasal dari Ribee, Pidie, Aceh. Dari Putri Sani, lahirlah anak yang akhirnya menjadi salah seorang Sultanah Aceh iaitu Sultanah Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675). Ratu Safituddin ini berkahwin dengan anak kepada Sultan Ahmad Syah, Pahang, Malaysia yang akhirnya menjadi Sultan ke-13 selepas Sultan Iskandar Muda. Beliau adalah Sultan Iskandar Thani (II) (1636-1641). Selepas zamannya, maka bermulalah Aceh diperintah oleh para Sultanah dengan dimulai oleh Sultanah Safiatuddin.
Isteri Sultan Iskandar Muda yang terkenal adalah Putroe Phang (Puteri Pahang). Namanya adalah Puteri Kamaliah. Ia merupakan puteri dari Kesultanan Pahang setelah Pahang ditakluk oleh Aceh pada tahun 1617. Ada yang mengatakan bahawa Putroe Phang ini adik kepada Sultan Ahmad Syah, Pahang pada masa itu. Namun, hasil perkahwinan antara Iskandar Muda dengan Putroe Phang tidak melahirkan anak.
Anak Iskandar Muda yang bergelar Meurah Pupok ini adalah hasil perkahwinan Baginda dengan Putri Gayo. Kalimah ‘Meurah’ adalah gelaran bagi Raja-Raja Aceh sebelum kedatangan Islam. Contohnya adalah Meurah Silu iaitu orang yang awal mendirikan Kerajaan Islam Samudera Pasai (sekarang Aceh Timur). Kerajaan Samudera Pasai bermula pada tahun 1042 sehingga 1427 Masihi. Meurah Silu di Islamkan sekitar tahun 1270-1275 Masihi oleh seorang ulama’ dari Mekah iaitu Sheikh Ismail. Akhirnya nama beliau bertukar menjadi Sultan Malikus Saleh. Kerajaan ini dimulai dengan Islam dizaman pemerintahannya iaitu tahun 1261-1289 Masihi. Dalam bahasa Gayo, kalimah ‘Meurah’ disebut sebagai ‘Marah’.
Kini, makam Meurah Pupok iaitu anak Sultan Iskandar Muda ini dikelilingi oleh lebih 2000 makam tentera Belanda yang berjaya dibunuh oleh para Mujahid Aceh sekitar tahun 18. Di makam Meurah Pupok, tercatat kata-kata yang sangat masyhur dari Sultan Iskandar Muda saat menjatuhkan hukuman hudud ke atas anaknya itu yaitu “Mate Aneuk Meupat Jirat, Gadoh Adat Pat Tamita” . Perkataan yang diucapkan oleh baginda di dalam bahasa Aceh ini bermaksud ‘ Mati Anak Boleh Dicari Kuburnya, Tetapi Mati Adat Dimana Lagi Mahu Dicari’. Maksud ‘adat’ didalam ayat ini adalah adat-adat yang Islami yang dihidupkan di bumi Aceh Darussalam pada masa itu.
Dalam sejarah Kerajaan Islam Aceh Darussalam di era Kesultanan Aceh (1514-1903), tercatat bahawa adalah seorang lagi sultan yang sangat tegas melaksanakan perintah Allah walaupun terhadap anggota keluarganya sendiri iaitu Sultan Alauddin Riayat Syah II Al-Qahhar (Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid Al-Mukammil), sultan Aceh yang ke-10 yang memerintah pada tahun 1588-1604. Ini diakui oleh Teungku Hasanuddin Yusuf Adan (Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia-Cabang Aceh (DDII) / pensyarah Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry)dalam tulisan beliau, Syariat Islam di Aceh: Antara Implementasi dan Diskriminasi, menyatakan bahawa:
“sebagai contoh konkrit tentang pelaksanaan Syariat Islam yang berkenaan dengan hukum hudud dalam kerajaan Aceh Darussalam adalah apa yang terjadi pada masa Sultan Alauddin Riayat Syah II Al-Qahhar yang telah melakukan hukuman bunuh ( qishas ) terhadap puteranya sendiri, Abangta yang ditangkap kerana zalim, membunuh orang lain dan melawan hukum serta adat yang berlaku dalam kerajaan”.
Malangnya, ada buku-buku sejarah yang menulis bahawa, Aceh berada di bawah pemerintahan yang kejam dan keras iaitu zaman Iskandar Muda. Sekarang barulah kita mengetahui, yang dimaksudkan dengan kejam dan keras itu adalah kerana beliau melaksanakan Syariat Allah dalam pemerintahannya. Inilah sejarah yang ditulis oleh para orientalis dan anak didik mereka

Sumber : Aneuk Nanggroe

MENGENAL MA’RIFAT ABDURRAUF

Syekh Abdurrauf

MENGENAL MA’RIFAT  

SYEKH ABDURRAUF

Syekh Abdurrauf dikenal sebagai ulama. Namanya yang singkat dan sederhana ini kadang-kadang di­lengkapi dengan Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri. Namun, ia memperoleh sejumlah gelar seperti, Syekh Kuala, Syekh di Kuala atau Ciah Kuala, dan Tengku Ciah Kuala. Ada pula yang menyebutnya dengan nama Ab­durrauf van Singkel. Disebut Syekh Kuala karena Syekh Abdurrauf pernah menetap dan mengajar hingga wa­fatnya dan dimakamkan di Kuala sungai Aceh. Digelari Abdurrauf van Singkel karena ia lahir di Singkil (1593 M), Aceh Selatan.
Di masa mudanya, mula-mula Abdurrauf belajar di Dayah Simpang Kanan, pedalaman Singkil, yang dip­impin Syekh Ali al-Fansuri, ayahnya sendiri. Kemudian, Abdurrauf melanjutkan belajar ke Barus, di Dayah Teungku Chik, yang dipimpin oleh Syekh Hamzah Fan­suri. Abdurrauf sempat pula belajar di Samudera Pasee, pada Dayah Tinggi Syekh Shamsuddin as-Sumaterani. Setelah Syekh Syamsuddin pindah ke Kuta Radja (Banda Aceh) diangkatlah Sultan Iskandar Muda seba­gai Qadhi Malikul Adil. Pada saat itu Syekh Abdurrauf mendapat kesempatan belajar ke negeri Arab. Selama belajar di luar negeri, Abdurrauf yang baru l9 tahun itu telah menerima pelajaran dari 15 orang ulama.
Disebut pula Syekh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan 15 orang sufi termashur. Tentang pertemuannya dengan para sufi, ia berkata, “Adapun segala sufi yang mashur wilayatnya, yang bertemu dengan fakir ini dalam antara masa itu…”
Tahun 1661 M, Abdurrauf kembali ke Aceh. Setelah tinggal beberapa waktu di Kuta Radja, ia mengadakan perjalanan ke Singkil, kemudian kembali ke Banda Aceh untuk memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syekh Jamiah Baitur Rahim menggantikan Syekh Nuruddin ar-Raniri yang pergi ke Mekkah.
Syekh Abdurrauf tidak begitu keras dalam berhadapan dengan faham orang lain. Hal ini dapat dilihat pada tulisan DR. T. Iskandar: “Walaupun Abdurrauf termasuk penganut fahaman tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasauf, tetapi berbeda dengan Nuruddin ar- Raniry, ia tidak begitu kejam terhadap mereka yang menganut fahaman lain. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini seba­gai kafir. Jika benar ia kafir, apakah gunanya mensia-siakan perkataan atasnya dan sekiranya ia bukan kafir, maka perkataan itu akan berbalik kepada dirinya sendiri.” (Abdurrauf Singkil Tokoh Syatariah Abad ke-17: Dewan Bahasa, Mei 1965).
Syeikh Abdurrauf menulis buku dalam bahasa Melayu dan Arab. Bukunya yang terkenal antara lain, Turjumanul Mustafiid, Miraatut Thullab (Kitab Ilmu Hukum), Umdatul Muhtajin lla Suluki Maslakil Mufradin (Mengenai Ketuhanan dan Filsafat), Bayan Tajalli (Ilmu Tasawuf), dan Kifayat al-Muhtajin (Ilmu Tasawuf). Seluruh karyanya ditulis dalam bentuk prosa. Hanya satu yang ditulis dalam bentuk puisi, yakni Syair Ma’rifat.
Sebagai penyair, Syeikh Abdurrauf memperlihatkan kepiawaiannya menulis puisi “Syair Ma’rifat”. Salah satu naskah syair ini disalin di Bukit Tinggi tahun 1859. Syair Ma’rifat mengemukakan tentang empat komponen agama Islam. Yakni Iman, Islam, Tauhid dan Ma’rifat. Nampak dalam syair itu unsur ma’rifat sebagai pengetahuan sufi yang menjadi puncak tertinggi.
Dalam puisi itu Abdurrauf mencoba menjelaskan tentang pendekatan amalan tasawuf menurut aliran al-Sunnah wal al-Jamaah.
"Jikalau diibarat sebiji kelapa
kulit dan isi tiada serupa
janganlah kita bersalah sapa
tetapi beza tiadalah berapa

"Sebiji kelapa ibarat sama
lafaznya empat suatu ma’ana
di situlah banyak orang terlena
sebab pendapat kurang sempurna
kulitnya itu ibarat syariat"
 tempurungnya itu ibarat tariqat
isinya itu ibarat haqiqat
minyaknya itu ibarat ma’rifat
(Syair Ma’rifat: Perpustakaan Universiti, Leiden OPH. No.78, hlm. 9-25/ Dewan Bahasa dan Pustaka, Desember 1992).
Tingkat ma’rifat merupakan tahap terakhir setelah melalui jenjang syariat, tarekat, dan hakekat, dalam perjalanan menuju Allah. Untuk sampai ke tingkat ma’rifat, menurut Abdurrauf, orang harus lebih da­hulu menjalankan aspek syariat dan tarekat dengan tertib. Orang harus melakukan ibadah dengan benar dan ikhlas.
Tentunya ada suasana mistik di sana. Suasana mistik itu akan lebih terasa bila membaca barisan lain dari “Syair Ma’rifat”.
"Airnya itu arak yang mabuk
siapa minum jadi tertunduk
airnya itu menjadi tuba
siapa minum menjadi gila

"Ombaknya itu amat gementam
baiklah bahtera sudahnya karam
laut ini laut haqiqi
tiada bertengah tiada bertepi

Buku karya Syekh Abdurrauf lainnya diberi judul “Kifayat al-Muhtajin”. Buku itu ditulisnya atas titah Tajul ‘Alam Safiatuddin, seorang Sultanah yang mengayomi ulama dan sastrawan. Kitab ini berisi ilmu tasawuf. Disebutkan sebelum alam semesta ini dijadikan Allah, hanya ada wujud Allah.
Ulama besar dan pujangga Islam Syekh Abdurrauf meninggal 1695 M, usia 105 tahun. Dimakamkan di Kuala, Sungai Aceh, Banda Aceh.

Sumber: L.K. Ara. Penyair asal Dataran Tinggi Gayo Takengon

8 Tanda-tanda Seorang Pria Punya Masa Depan Cerah

Apa yang Anda lihat ketika memilih pasangan? Pria yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang? Jika tujuan hubungan Anda hanya saat ini, mungkin itu cukup. Namun, bila yang Anda cari adalah hubungan yang serius hingga ke pernikahan, ada kriteria lain yang sebaiknya Anda lihat, yaitu potensi kesuksesan dia.

1. Punya tujuan hidup
    Ketika Anda bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya.

      Bahkan, ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, 'Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir.'
 
2. Mandiri
    Ia tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.

3. Hobi menolong
    Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.

4. Bersahabat dan berwawasan
    Sikapnya yang bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan pun akan segera menghampiri.

5. 'Family man'
     Pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.

6. Memiliki investasi
     Saat ini gaji si dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
7. Realistis dan lurus
  Meskipun si dia bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian, jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan yang dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

8. Optimistis dan positif
   Ia sangat tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia hampir tak pernah berkata 'tidak bisa' atau 'malas deh melakukannya'. Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.


 

Labels